hari yang sempurna dan ranjang yang rusak

Setelah semalaman semedi di kamar kos ditemani secangkir kopi dan wafer coklat, serta berhasil mengalahkan si malas dan si moody, aku memutuskan mencari si ilham untuk mengisi blog yang katanya tercinta ini. Cerita lucu dan memalukan sangat diingat oleh siapa pun, maka jadilah sedikit cerita yang tersisa di hari yang sempurna itu sebagai salah satu tulisan setelah sekian lama hibernasi ;)

Ini adalah pengalaman ter… apa yah… terlucu sekaligus ironis mungkin yang takkan terlupa sebagai balasan seminggu terpadat seumur hidup kami, melewati hari paling bersejarah penentu masa depan, dan penumpukan capek yang sudah sampai level zona merah sangat berbahaya -ih bahasa sapa ne???-

18 Desember 2010 memang menjadi hari terpenting sedunia bagi kami berdua, karena hari itu aku dan si tuan besar saling menyerahkan ego dan sepenuhnya siap berbagi atas nama komitmen dan cinta -amin- Yang ada di pikiranku sejak subuh? Lagunya Sheila on7… Tuhan, sekali ini saja… lancarkan hariku… hariku bersamanya… ijinkanku semakin dekat padaMU, menyempurnakan separuh agama bersama seorang imam disampingku… ijinkan kami menikah hari ini…


Hari yang indah hari yang cerah, setelah sehari sebelumnya hujan turun, bahkan saat acara asok tukon selain makanan yang lezat para tamu juga diberi hidangan air hujan yang ruah -maklum acara di halaman rumah euy- Tapi esok hari itu, semua tampak sangat hangat. Aku akan menikmatinya, tidak akan banyak protes seperti kemarin, apapun yang mereka inginkan akan kulakukan, saatnya menjadi putri yang penurut ;) dan saat aku membuka mata, aku melihat gadis cantik di sana…

Gadis itu tampak bahagia saat akhirnya si tuan besarnya datang, cemas saat penghulu belum juga hadir meski waktu semakin dekat, sedikit hilang kesadaran saat mereka menggandeng dan mendudukkannya di kursi pelaminan, menunduk semakin dalam saat ayahnya menyerahkan anak gadis kesayangannya untuk dinikahkan pada seorang pemuda yang belum genap setahun beliau kenal, menahan napas saat dia menyadari bahwa setelah kalimat itu diucapkan hidupnya akan berubah… sesuatu yang dulu sangat menakutkan bagi egonya…

Yah aku menikah… akhirnya kami menikah… Meski awalnya terasa seperti mimpi bagiku, tapi aku tahu bahwa aku telah memutuskan kebahagianku sendiri, menikah dengan si tuan besar dan sejak saat itu dunia serasa penuh dengan senyuman ;)

Foto-foto akad nikah bisa dilihat di sini

Setelah akad nikah dan sesi pemotretan yang melelahkan -berasa model- kami pun makan, istirahat sebentar dan bersiap untuk ke graha wana bhakti yasa karena rias akan dilakukan di gedung. Kalian tahu? Aku langsung ditinggal si tuan besar yang baru saja jadi suamiku itu, dia jalan-jalan sama keluarganya… heu… keren yak? ;)

Untuk kedua kalinya, setelah sampai di gedung, aku menahan posisi duduk dan kantuk yang teramat saat rias paes ageng mulai dilakukan sejak pukul 14.00.  Aku harus menahan sakit kepala saat rambutku ditarik dan diikat, menahan mata yang semakin berat oleh bulu mata palsu, menahan nafas dan gerak saat bu Tia mulai membuat cengkorongan dan mewarnainya dengan pidih, menahan kepala yang semakin berat saat dipasang sanggul pandan dan pernak perniknya, menahan perut dan nafas saat bustier dipasangkan dan… setelah 3.5 jam terlewati… voilaaa… ada pengantin cantik di sana…

Prosesi panggih berjalan lancar meski sedikit terlambat, para tamu banyak berdatangan dan memberikan doa terbaik -amin-, makanan yang cantik dan enak pun tidak kekurangan meski tamu silih berganti datang tiada henti -lebay-, lagu-lagu tembang kenangan yang merdu semakin membuat malam itu serasa menjadi milik kami berdua… Meski laper berat melihat para tamu sangat menikmati hidangan, kepala berat kliyengan nahan sanggul, kaki pegal akut gara-gara highheels 14 cm… tapi rasanya senyum ini ga akan berhenti meski gigi kering kerontang dehidrasi sekalipun. Yah, rasanya memang luar biasa bahagia malam itu… akhirnya semua perjuangan terbayarkan… Alhamdulillah :)

Foto-foto resepsi nikah bisa dilihat di sini

Dan hujan sebagai pertanda banyaknya rejeki pun turun setelah semua selesai… Hemmm bahkan hujan pun turut mendukung suasana malam itu ;) -bahasa si tuan besar biasanya sambil berkedip genit- Tapi ketegangan beberapa hari persiapan dan capek serta bahagia luar biasa hari itu membuat kami berdua kelelahan. Pekerjaan rumah pertamaku adalah membersihkan kuteks, lalu dempulan wajah yang berlapis, kemudian mengerok pidih dengan sendok yang dilanjutkan dengan shampoo supaya benar-benar bersih dan ditutup dengan sentuhan akhir penyegar. Total waktu 1 jam lebih dan saat itu juga aku diberi hadiah paling mengejutkan sepanjang hidupku, alisku tinggal separo… huhuhu… -nangis congkel2 lantai-

Baiklah… setelah selesai beberes, saatnya memasuki kamar penganten… -uhuk uhuk…- Rasanya aneh ya, memasuki kamar itu dengan seorang laki-laki yang baru saja menjadi suami kita? ;) oh plisss… jangan tersipu terlalu begitu… percayalah… no romantic music, no lingerie, no hot chocolate, no kissing… ahahaha… hanya dengan baby doll panjang, alis tinggal separo dan rambut setengah kering, apa yang bisa diharapkan coba? -jongkok meratapi naseb di pojokan-

Walau berulang kali beberapa hari sebelumnya si tuan besar membual tentang malam pertama, bahkan dia sempet ngecek tempat tidur berderit atau tidak pagi hari setelah akad -suamiku emang omdo banget kalau soal malam pertama… ahahaha- tapi aku sangat yakin malam itu kami sama-sama kecapekan luar biasa dan hanya satu yang kami butuhkan, tidur nyenyak ;)

Diawali dengan rebutan pw -posisi wuenak- di tempat tidur mengingat si tuan besar yang membutuhkan luas permukaan jauh lebih besar dariku, akhirnya kami mengambil keputusan pertama kami sebagai suami istri yaitu tentang bagian tempat tidur masing-masing… -horeee…- dan setelah kemenanganku menyuruh suamiku itu mematikan lampu, si tuan besar pun dengan pedenya turun dari tempat tidur dengan bergaya dan… BRAKKK!!!!

Kami berdua saling pandang hingga aku tersadar dan tertawa cekikikan tertahan… maklum, sudah sepi rumah euy… Yah, entah bagaimana si tuan besar bergaya turun, tapi dia telah merusakkan penahan kayu tengah bagian bawah tempat tidur hingga terlepas. Aku tak henti-hentinya cekikikan sementara si tuan besar panik… hihihi… Lalu lalu??? Yah… akhirnya si tuan besar memutuskan untuk gelar kasur di bawah karena takut tempat tidurnya rusak makin parah atau bahkan rubuh, sedangkan aku dengan suksesnya menguasai ranjang pengantin kami sendirian dan tidur nyenyak malam itu ;)

Kalian harusnya melihat bagaimana ekspresi si tuan besar saat meminta paku dan palu pada bapakku keesokan harinya… huahahaha… lucu sekali mukanya, apalagi dia ga berani melihat bapakku yang senyam-senyum tertahan -sekaligus khawatir mungkin- kok bisa tempat tidur rusak padahal selama ini dipakai juga ga pernah kenapa-kenapa.

kamar manten yang seharusnya jadi TKP

Dan si tuan besar pun sukses sakit hati karena orang-orang yang tahu cerita ini jadi berpikir macam-macam seperti cerita khayalan hebohnya malam pertama, padahal tidak terjadi apa-apa bahkan menyebabkan dia tidur di bawah sendirian… dan saat teringat bualannya tentang malam pertama semakin mengiris pedih hatinya plus ditabur garam deh… Yah, penutup hari yang istimewa dan malam pertama yang sungguh takkan terlupakan ya sayang? ;)

6 Tanggapan to “hari yang sempurna dan ranjang yang rusak”

  1. gyahahahaha…saya kopi halaman ini. biar besok kalo dia nggaya2 membual sama saya, saya punya bukti semi-otentiknya :lol:

  2. ga kebayang gimana rasanya

  3. huahahahahahahaha, telat banget sayah bacanya

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.