penakluk hampa itu bernama ‘Karimunjawa’

Blog pertamaku kubuat karena seseorang, yang kemudian menjadi candu dengan menuliskan semua tentang hari-hariku, warna darinya dan segala hal yang terjadi bahkan meski tak penting karenanya. Blog itu kemudian kututup karena semua yang terjadi selama 3.5 tahun telah berakhir dan terlalu banyak cerita tentang dia di sana. Meneruskannya hanya akan membuatku tak berani menoleh ke banyak cerita sebelumnya. Yang aku tahu hidup tak memberi pilihan tuk berhenti, saatnya meneruskan langkah menuju impian baru dan kutinggalkan ‘hampa’ pertamaku di sana.

Blog inilah kini rumahku, kubuat karena candu itu masih ada, tuk mengatakan semua yang ada di kepalaku tanpa seorangpun kan menolaknya karena ini rumah milikku dan orang2 yang datang semata karena keinginannya berkunjung sebagai tamu yang baik hati. Dan yang sangat aku tahu, dia tak(mungkin) terganti.

Sesuatu terjadi, meruntuhkan ego & harga diriku ke dasar terdalam yang pernah kualami selama ini. Apa yang kuimani tentang arti ‘teman’ menjadi kepingan yang kembali berserakan dan yah aku merasa keberatan menyusunnya kembali dengan menahan rasa sakitnya. Bukankah lebih mudah membiarkannya saja? Aku mulai menjaga jarak dengan siapapun yang tau ceritaku dan menjauh dari bau busuk jejaring sosialku. Aku menjadi teman yang baik pada siapa saja yang menurutku baik secara nyata dan menerimaku di kondisi saat ini tanpa perlu tau masa tersakitku.

Setelah itu ‘hampa’ kembali mulai berkunjung. Mula-mula hanya sebentar, selanjutnya aku tak bisa merasakan lagi ketulusan senyuman karena aku terbiasa melakukannya bersama ‘hampa’ di kepalaku tanpa perlu mengajak hati turut serta.

Imbas ‘hampa’ membuat yangtakterganti ikut mati suri… tulisan tentang teman sejati yang berhasil kutulis tak yakin sanggup kuulang lagi.

Karimunjawa. Kupikir akan menjadi pelarian kesekian yang akan membuatku semakin terbiasa. Tapi jauh di dasar hatiku aku tahu, ini sudah cukup, aku harus menemukannya dan melarungnya di sana.

Di sana, aku selalu bisa melihat matahari baik di saat dia datang dengan pesonanya hingga saat dia tetap di sana tapi tak bisa kumiliki dan hanya bisa kulihat dia meninggalkan jejak terindahnya. Di sana, aku bisa merasakan pasir putih di genggaman ujung kakiku, tapi lautan pasir itu memaksaku berbagi dan menikmati butiran putihnya yang menjadi bagianku. Di sana, mungkin aku tak bisa berteriak pada ombak dan meneriakkan sumpah serapah itu supaya bisa dibawanya ke dasar laut mati, tapi aku bisa membisikkan semua nya pada indahnya karang dan ratusan ikan yang selalu setia menari sembari berkata bahwa aku tetap berarti dengan apa adanya diriku.

Di sana, setiap orang yang ada memaksaku mengingat setiap hal terkecil di masa tersakitku dan memaksaku menerimanya sebagai pribadi yang baru… yang kusambut dengan senyuman tanpa ‘hampa’ di kepalaku. Di sana, bayangan masa lalu menjelma pada wajah-wajah yang  mau menggenggam tanganku dan menarikku, memaksaku melampaui batas takutku akan gelapnya kenangan, menggodai egoku, menarik2 rasa sakit hingga hanya ada rasa damai dan ketulusan yang tersisa.

Seseorang pernah bertanya, “pernahkah kamu merasa hampa?” pembicaraan itu kujawab seolah aku tahu apa yang kulakukan. Seperti yang kukatakan tadi, terbiasa membuatku bisa melakukannya bersama ‘hampa’ di kepalaku tanpa perlu mengajak hati turut serta.

Kini kutahu, ‘hampa’ datang karena aku sendiri yang mengijinkannya. Kini juga kutahu, aku yang menentukan dan tahu bagaimana memintanya pergi.

Penakluk hampa itu bernama Karimunjawa dan orang2 yang ada di sana selama 4 hari itu. Aku mengijinkan mereka semua menarikku kembali pada janji yang pernah kutulis… bahwa aku tidak boleh berhenti, karena hidup adalah setiap detik yang dilalui, adalah keteguhan hati dan perjuangan tiada henti.

Foto ini diambil oleh teman fotografer gratisan kami ;)

Mulai hari ini semua media sosialku fb septiana dewi, @septianaku & rumah yangtakterganti ini takkan pernah mati suri lagi… takkan pernah kalian lihat nanti kami menyerah lagi… Mari berekspresi dan berlari tiada henti… ;)

===
ps. tulisan ini kupersembahkan untuk Karimunjawa dengan semua teman & keluarga luar biasa yang kutemui di sana. Cerita detil tentang liburan Karimunjawa ditunggu saja yah, kalau mas wangsit bisa kupaksa mampir lagi ;)

4 Tanggapan to “penakluk hampa itu bernama ‘Karimunjawa’”

  1. sukaaaaa ^_<

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.